PANDUNEWS.co.id, Takalar – Penutupan Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar yang berlangsung meriah di Lapangan Kantor Bupati Takalar diwarnai antusiasme luar biasa dari ribuan santri dan masyarakat, Sabtu malam (24/10/2026).
Ajang perdana yang diinisiasi oleh Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, ini sukses menjadi wadah unjuk bakat, kreativitas, seni, serta inovasi para santri dari berbagai pondok pesantren selama tiga hari pelaksanaan.
Dalam sambutannya saat menutup kegiatan, Bupati Daeng Manye mengungkapkan rasa bangga atas tingginya partisipasi serta semangat membara yang ditunjukkan para peserta dan suporter masing-masing pesantren.
“Saya melihat antusiasme penonton luar biasa. Masing-masing pondok mengirimkan pendukungnya untuk memberikan semangat agar tampil baik, penuh percaya diri, ceria, dan gembira,” ungkap Daeng Manye penuh apresiasi.
Dipastikan Jadi Agenda Tahunan
Meski dipersiapkan dalam rentang waktu relatif singkat—sekitar 45 hari sejak gagasan awal—kolaborasi apik antara Pemkab Takalar, Kementerian Agama, dan pimpinan pondok pesantren mampu menghasilkan perhelatan akbar yang menuai sukses besar.
Melihat sambutan positif tersebut, Bupati Daeng Manye secara tegas memastikan bahwa Festival Pondok Pesantren akan dijadikan sebagai agenda resmi tahunan di Kabupaten Takalar.
“Sepanjang saya menjabat sebagai Bupati Takalar, insyaallah Festival Pondok Pesantren ini akan terus dilaksanakan setiap tahun. Tahun depan dan seterusnya kita pastikan pelaksanaannya jauh lebih baik dan menarik,” tegasnya.
Ia menambahkan, evaluasi penyelenggaraan tahun ini akan ditindaklanjuti dengan penambahan cabang kompetisi pada edisi mendatang, seperti lomba tahfiz Al-Qur’an, kemampuan pidato bahasa Arab dan Inggris, serta penguatan pameran kreativitas santri.
Pesantren sebagai Benteng Moral Bangsa
Lebih jauh, Daeng Manye menekankan posisi krusial pondok pesantren sebagai benteng pertahanan moral bangsa. Menurutnya, akselerasi pembangunan daerah tidak boleh hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, melainkan harus seimbang dengan penguatan integritas, karakter, dan mental generasi muda.
“Ketika terjadi kemiskinan intelektual, integritas, dan karakter, bangsa itu sedang mempertaruhkan masa depannya. Di sinilah pondok pesantren hadir sebagai benteng moral, dan masa depan bangsa berada di tangan para santri,” tuturnya.
Dampak Ekonomi UMKM Pesantren
Selain menjadi panggung syiar dan edukasi keagamaan, perhelatan ini terbukti memberikan multiplier effect terhadap perekonomian lokal. Berdasarkan laporan panitia, transaksi harian di stan pameran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pesantren berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari.
“Ini sangat luar biasa. Kegiatan ini bukan sekadar ajang kreativitas seni dan ilmu, melainkan turut memberikan nilai tambah ekonomi bagi para santri dan kemandirian pondok pesantren,” pungkas Daeng Manye disambut riuh tepuk tangan undangan.
Malam penutupan yang diwarnai pengumuman para juara lomba ini ditutup dengan suasana penuh kebersamaan, mempertegas komitmen Pemkab Takalar dalam melahirkan generasi santri yang unggul, berdaya saing, dan berakhlak mulia.(*)









